Blogger Widgets MIDWIFE'S DOCUMENT: WANITA SEBAGAI LANSIA

Minggu, 20 Mei 2012

WANITA SEBAGAI LANSIA


Periode Menopause/ Klimakterium Dan Tanda-Tandanya
Sehubungan dengan faktor usia, kapasitas untuk reproduksi yang berlangsung selama menstruasi atau haid pertama itu masih terus berlangsung selama menstruasi atau haid pertama itu masih terus berlangsung secara teratur. Dengan berhentinya fungsi ini akan berkahir pula fungsi pelayanan, pengabdian, dan pengekalan species manusia. Sebab dengan berakhirnya haid, proses ovulasi atau pembuahan sel telur juga jadi terhenti oleh karenanya. Lalu segenap aparat kelenjar mengalami hambatan dan pengurangan aktivitasnya. Ditambah lagi, organ kelamin turut mengalami proses atrofi, yaitu menjadi lisut dan mundur fungsinya. Akhirnya, segenap bagian pada tubuh secara lambat laun menampakkan gejala-gejala ketuaan.
-Fase sedemikian ini pada diri wanita disebut sebagai menopause. (menopause, men = bulan, pause = pausa, pausis, pauoo= periode atau tanda berhenti, menopause= berhentinya secara definitif menstruasi). Fase menopause disebut pula sebagai periode klimakterium (climacter = tahun perubahan, pergantian tahun yang berbahaya).-
Menopause merupakan suatu gejala dalam kehidupan wanita yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi. Menopause adalah fase alami dalam kehidupan setiap wanita yang menandai berakhirnya masa subur. Menopause seperti halnya menarche dan kehamilan dianggap sebagai peristiwa yang sangat berarti bagi kehidupan wanita. Menarche pada remaja wanita, menunjukkan mulai diproduksinya hormon estrogen, sedang menopause terjadi karena ovarium tidak menghasilkan atau tidak memproduksi hormon estrogen.

Pada umumnya, klimakterium ini di awali dengan satu fase pendahuluan atau fase preliminer, yang menandai suatu proses “pengakhiran”. Maka muncullah kemudian tanda-tanda antara lain;
a.       Menstruasi menjadi tidak lancar dan tidak teratur, biasanya datang dalam interval waktu yang lebih lambat atau lebih awal dari biasanya.
b.      “ Kotoran” haid yang keluar banyak sekali, ataupun sangat sedikit.
c.       Muncul gangguan-gangguan vasomotoris berupa penyempitan atau pelebaran pada pembuluh-pembuluh darah
d.      Merasa pusing-pusing saja, disertai sakit kepala terus-menerus
e.       Berkeringat tidak hentinya.
f.       Neuralgia atau gangguan/ sakit syaraf, dan lain-lain

Semua keluhan ini disebut fenomena klimakteris, sebagai akibat dari timbulnya modifikasi atau perubahan fungsi kelenjar-kelenjar. Sehubungan dengan perubahan-perubahan fisik tersebut, terjadi pula “pergeseran” atau erosi dalam kehidupan psikis pribadi yang bersangkutan. Pergeseran dan perubahan-perubahan psikis ini mengakibatkan timbulnya satu krisis, dan memanifestasikan diri dalam simptom-simptom psikologis, antara lain ialah : Depresi-depresi (kemurungan), mudah tersinggung dan mudah jadi marah, mudah curiga, diliputi banyak kecemasan, insomnia atau tidak bisa tidur karena sangat bingung atau gelisah, dan lain-lain
Simptom-simptom psikologis klimakterium ini dapat di anggap sebagai “jeritan minta tolong”, agar wanita tersebut masih di perbolehkan meneruskan aktivitasnya. Proses yang progresif menuju pada kelayuan dan ketuaan itu selalu dibarengi denagn penampakkan yang regresif (mundur atau surut fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah).
Klimakterium itu sendiri dapat kita bagi menjadi dua tahapan, yaitu :
      Tahun-tahun dimana saat haid/ menstruasi sudah tidak teratur, sering terganggu, atau sudah tehenti sama sekali. Namun demikian, aparat endokrin seksual masih terus berfungsi. Periode ini disebut sebagai masa pra-klimakteris
      Tahap kedua menampilkan gejala keberhentian secara definitif organisme yang membentuk sel-sel telur, yaitu berhentinya organisme tersebut sebagai lembaga kehidupan.
Ada tiga periode menopause, yaitu:
§  Klimakterium, yaitu merupakan masa peralihaan antara masa reproduksi dan masa senium. Biasanya periode ini disebut juga dengan pramenopause.
§  Menopause, adalah saat haid terakhir, dan bila sesudah manopause disebut pasca menopause.
§  Senium, adalah periode sesudah pasca menopause, yaitu ketika individu telah mampu menyesuaikan dengan kondisinya, sehingga tidak mengalami gangguan fisik
Masa klimakteris ini mirip sekali dengan masa pra pubertas. Oleh karena itu masa ini disebut pula sebagai pubertas kedua. Sedang periode klimakterium sendiri banyak kemiripannya dengan periode pubertas. Tingkah laku orang pada periode pubertas kedua ini sifatnya sering lucu-lucu, aneh-aneh, janggal, dan tidak pada tempatnya. Tampaknya saja tingkah laku wanita yang “berlebih-lebihan” tersebut bermaksud untuk :
-          Mengingkari ketuaannya, dan ingin mengulangi kembali pla kebiasaan di masa muda.
-          Menimbuni dirinya dengan pakaian dan perhiasan warna-warni serta macam-macam bahan kosmetik, agar kelihatan masih “remaja”.
Dengan berhentinya aktivitas indung telur, maka sistem endokrin (kelenjar tanpa pembuluh-bunga) menjadi kacau balau fungsinya, sehingga mengakibatkan kekacauan pula pada fungsi-fungsi organis dan fungsi psikis lainnya. Namun demikian, manifestasi individual periode klimakterium tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing individu. Sabab struktur kepribadian yang terintegrasi dengan baik, akan mempengaruhi secara positif proses gangguan-gangguan kelenjar.  kan keresahan batinnya pada perbuatan-perbuatan yang intelligent, produktif atau kreatif.
Tidak hanya pada segi organik dan jasmaniah saja yang terjadi kemunduran, akan tetapi juga pada segi psikis dan sifat-sifat kepribadiannya. Kualitas-kualitas feminin yang individual sifatnya, kecantikan dan charme, vitalitas, daya ingatan, daya pendengaran, daya berpikir dan fungsi-fungsi psikis lainnya, semuanya juga mengalami proses kemunduran yang progresif. Semua kemekaran dan ciri-ciri keindahan feminin yang diperoleh pada usia puber dan usia muda., mulai susut dan menghilang sedikit demi sedikit. Pendek kata, dengan terjadinya dekadensi atau kemunduran fungsi reproduktif, mulai hilang pula kecantikan dirinya. Biasanya hilang pula kehidupan emosional feminin yang hangat mesra.
Gangguan Psikologis Menopouse
Gangguan Psikologis Pada Wanita Menopause menurut Kartini (1992) beberapa gangguan yang terjadi adalah :
1.      Depresi Menstrual 
Keadaan ini pernah timbul pada masa adolesens yang kemudian hilang dengan sedirinya selama periode reproduktif (menjadi ibu) dan timbul lagi pada usia klimakteris. Pada saat ini sekalipun wanita tersebut tidak haid lagi, namun rasa depresif itu selalu saja timbul dengan interval waktu tidak tetap. Dan selalu tiba bersamaan dengan datangnya siklus haid. Tampaknya depresi tadi merupakan manifestasi dari kepedihan hati dan kekecewaan, bahwa wanita yang bersangkutan menjadi kurang lengkap dan sempurna disebabkan oleh berhentinya fungsi reproduksi dan haid. Cara mengatasi gangguan psikologis yang berhubungan dengan depresi menstrual yaitu : 
-          Dukungan Informatif 
      Memberikan konseling bahwa berhentinya haid adalah hal yang fisiologis dan akan dialami oleh semua wanita.
      Memberikan nasehat agar wanita tersebut mau dan bisa menerima status. 
      Memberi nasehat agar dapat menerima keadaannya dengan lapang dada. 
      Memberikan informasi agar selalu mengkomunikasikan setiap masalah atau perubahan yang terjadi kepada suaminya. 
      Memberi nasehat untuk mencari tahu lebih banyak tentang hal yang dihadapi melalui media cetak, elektronik dan lain-lain. 
      Memberi nasehat untuk mencari dukungan spiritual. 
      Memberi contoh-contoh pengalaman positif tentang wanita menopause. 
      Menganjurkan untuk berolahraga. 
      Memberi latihan penanganan stress. 
      Memberi nasehat, konsultasi ke dr. Obgyn atau psikolog bila perlu.
-          Dukungan Emosional 
      Mempunyai rasa empati terhadap hal yang dialami oleh wanita menopause. 
      Melibatkan anggota keluarga terutama suami dalam memahami kandisi istrinya. 
      Memberikan perhatian dan kepedulian kepada wanita tersebut. 
      Menciptakan lingkungan kelurga yang nyaman, tenang, harmonis dan saling pengertian. 
-          Dukungan Penghargaan 
      Memberi penghormatan sehingga wanita tersebut merasa dihargai. 
      Memberi dorongan/support sehingga wanita tersebut bisa percaya diri.
-          Dukungan Instrumental 
      Memberi bantuan tenaga terhadap apa yang dibutuhkan oleh wanita menopause. 
      Memberi bantuan materi (yang dilakukan keluarga )
2.      Ide Delirius 
Biasanya gejala tersebut berisikan ide delirus (kegilaan, nafsu-nafsu petualangan). Cara mengatasi gangguan psikologis yang berhubungan dengan ide delirius yaitu : 
-          Memberi nasehat agar lebih mendekatkan diri pada Tuhan. 
-          Memberi nasehat mengembangkan pikiran atau ide yang positif dalam hidup.
3.      Masturbasi Klitoris 
Ada kalanya pada wanita menopause timbul semacam seksual yang luar biasa hangat membara lagi dan ia sensitive sekali sengga wanita tersebut melakukan masturbasi klitoris (onani kelentir). Cara mengatasi gangguan psikologis masturbasi : 
-          Memberi nasehat untuk memenuhi kebutuhan sex secara sehat. 
-          Memberi nasehat untuk konsultasi ke ahli kebidanan untuk mendapat terapi. 
-          Memberi konseling bahwa wanita menopause bisa melakukan hubungan sex 
-          Mengkomunikasikan masalah pada suami dan diharapkan suami mau membantu memecahkan masalah, memberi dukungan kepada isrinya.
4.      Aktifitas Hipomanis Semu 
Wanita ini merasakan seolah-olah vitalitas hidupnya jadi bertambah. Cara mengatasi gangguan psikologis ini yaitu : 
-          Memberi nasehat agar aktifitas yang dilakukan dapat mengarah ke hal-hal positif. 
-          Mengisi kegiatan dengan memperdalam kebudayaan atau bakat.
Cara Mengatasi Insomia, Gangguan Konsep Diri Dan Infatile Pada Masa Menopause Dengan Konseling Dan Kolaborasi 
Pada masa menopause terjadi perubahan yang menimbulkan gangguan diataranya insomia, gangguan konsep diri dan infantile. Cara mengatasinya adalah : 
1.      Kembangkan kebiasaan tidur dan mentaatinya, membaca bacaan ringan, nonton TV, acara santai, musik yang menyenangkan.
2.      Makanlah jangan terlalu banyak/kemyang dan jangan kurang karena akan mengganggu tidur. 
3.      Atur kenyamanan diri, pastikan ruangan jangan terlalu panas/dingin dan kamar harus bersih juga rapih. 
4.      Dapatkan udara segar, jangan tidur dengan selimut menutupi kepala akan mengurangi oksigen dan menambah karbodioksida yang dihirup. 
5.      Batasi minum/cairan setelah jam 16.00 karena akan bak waktu malam hari. 
6.      Jernihkan pikiran, cobalah menyelesaikan masalah pada siang dan singkirkan semua kecemasan sebelum tidur. 
7.      Menunda jam tidur dan tidak tidur siang. 
8.      Mengerti dan menerima diri sendiri tulus ikhlas merupakan fitrah dari Tuhan.
9.      Aktifitas sosial dan agama dapat memberikan kepuasan batin, memperkaya iman dan memberikan rasa berserah diri kepada-Nya. 
10.  Ketenangan dalam keluarga yaitu adanya pengeryian dan dorongan anggota kelurga akan membantu mengurangi gejala yang timbul, terasa ringan dan membawa kebahagiaan. 
11.  Pengobatan dengan estrogen dan kombinasi psikoterapi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar