Blogger Widgets MIDWIFE'S DOCUMENT: WANITA SEBAGAI IBU

Minggu, 20 Mei 2012

WANITA SEBAGAI IBU


Defenisi Wanita
Menurut definisi dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan, perempuan adalah orang (manusia) yang mempunyai vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak dan menyusui. Sedangkan wanita adalah perempuan yang berusia dewasa atau dapat dikatakan wanita adalah menggambarkan perempuan dewasa. Wanita juga sebutan yang digunakan untuk spesies manusia berjenis kelamin betina.
Defenisi Ibu 
Istilah ibu berasal dari kata “empu” (bhs. Sansekerta) artinya yang mulia, dihormati, membimbing, mengasuh. Ibu juga dapat dikatakan wanita yang telah melahirkan seseorang. Sedang dalam kata sifat ke-ibua-an adalah lemah lembut, penuh kasih sayang, dsb); dan biasanya sifat perasaan lebih cepat tumbuh pada anak perempuan. Umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini.

Fungsi Keibuan
Seorang ibu pasti akan merasa senang dan bangga bila berhasil menjadi idola bagi anaknya. Dengan menjadi idola, seorang ibu akan lebih mudah untuk mengarahkan anaknya, sekaligus juga sebagai suri tauladan bagi sang anak guna pengembangan potensi-potensinya di kemudian hari.  Sosok ibu yang secara kodrati "dekat" dengan anak - karena telah melahirkan, merawat dan menyusui anaknya - ternyata tidak secara otomatis bisa menjadi tokoh idola anak. Penyebab utamanya biasanya terletak pada kurangnya ketrampilan dan wawasan pengetahuan ibu dalam mengurus dan membesarkan anak.
Peranan Ibu terhadap anak-anaknya di rumah adalah sebagai pendidik dan pengayom pertama sebelum masuk pendidikan formal, yang sangat berarti dalam perkembangan dan pertumbuhan segala potensi anak. Seorang ibu yang mampu memberikan pendidikan awal (basic education) yang benar yaitu pendidikan moral (moral education) dan pendidikan pengembangan potensi pikir dan kreativitas sejak dalam lingkungan keluarganya, maka anak tersebut akan cepat menyesuaikan kondisi di luar lingkungan keluarganya dan mampu melakukan penajaman dan pencerahan pemikiran secara cepat.
Dengan demikian seorang ibu wajib memiliki kecukupan ilmu pengetahuan untuk dapat mengarahkan anak-anaknya kepada kebaikan dan serta suri tauladan yang baik di hadapan anak-anaknya.
Berikut ini ada beberapa tips yang dapat ibu-ibu lakukan :
1.      Selalu berusaha mendekatkan diri pada anak dengan selalu menjalin interaksi dan komunikasi yang positif dan akrab dengan anak.
2.      Tanggap dan sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan fisik anak yang dirasa penting - tanpa diminta anak - namun tetap harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang ada.
3.      Menampilkan sifat-sifat khas seorang ibu, yang telah dianugrahkan Tuhan seperti sifat "keibuan", lemah lembut dan mengayomi sehingga kebutuhan psikologis anak seperti rasa aman, nyaman dan kasih sayang dapat terpenuhi.
4.      Menyediakan waktu untuk bersama-sama anak menikmati berbagai aktivitas yang menyenangkan anak.
5.      Bersedia menjadi tempat "curhat" bagi anak.
6.      Memperluas wawasan pengetahuan dan ketrampilan dalam pengasuhan anak.
7.      Bersedia untuk introspeksi atau terus memperbaiki diri agar tercipta kedekatan dengan anak. Hindari sikap merasa paling benar dan tidak peduli terhadap pendapat atau kritikan anak karena hal ini justru akan membuat ibu "jauh" dari anak.
8.      Tidak biarkan anak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang dapat memperkecil kesempatan ibu menjalin interaksi dengan anak dan menanamkan nilai-nilai yang baik bagi anak.
Sifat Keibuan
Sifat keibuan merupakan sifat yang lazim dimiliki seorang wanita, sifat tersebut mendorong seorang wanita untuk bersikap lemah lembut, penuh kasih sayang dan ketulusan, tapi dari kesemuanya itu tidak menutup kemungkinan seorang wanita/ibu tidak memiliki sifat keibuan.  Walaupun berpredikat sebagai ibu, mereka tak memahami arti penting dan indahnya sifat- sifat keibuan, seperti sabar, melindungi, kasih sayang, ketulusan dalam memberi, kesetiaan total, tetapi tanpa pernah merasa kehilangan dirinya saat mencintai orang lain.
Menumbuhkan sifat-sifat keibuan memang bukan suatu hal yang mudah, apalagi bagi kaum ibu yang sedang dilanda kemiskinan. Padahal, sifat-sifat keibuan melahirkan sikap konstruktif, yang amat dibutuhkan setiap orang yang ingin membebaskan dirinya dari belenggu kemiskinan.  Jika seorang ibu memiliki sifat-sifat keibuan dan mampu mengimplementasikannya dalam hidup keseharian, maka cepat atau lambat, juga mampu membebaskan diri dari kemiskinan karena sifat-sifat keibuan memang mengarah pada pembentukan sikap mental (mental attitude) yang positif, konstruktif, dan produktif.
Dengan sifat-sifat keibuannya, seorang ibu bukan hanya mampu memotivasi diri untuk hidup sukses dan bahagia, bahkan ia juga mampu memotivasi putra-putrinya agar kelak menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsanya.  Seseorang dengan sifat-sifat keibuan sudah tentu memiliki sikap mental agar kesuksesan dan kebahagiaan dirinya juga dapat dialami atau bahkan dikembangkan orang lain, termasuk oleh putra-putrinya sendiri.
Relasi ibu dan Anak
Keibuan itu bersangkutan dengan relasi ibu dengan anaknya, sebagai kesatuan fisiologis, psikis dan sosial. Relasi tersebut dimulai sejak si janin ada dalam kandungan ibunya, dan dilanjutkan dengan proses proses fisiologis berupa masa hamil, kelahiran, periode menyusui dan memelihara anak.  
Cinta-kasih ibu ini sering dibarengi oleh perasaan dedikasi pada anaknya dan pengorbanan sebesar-besarnya. Sifat keibuan tadi diekspresikan dalam bentuk kesediaan untuk berkorban diri demi kebahagiaan anaknya, tanpa meminta balas-jasa bagi segala jerih payahnya. Oleh kasih-sayangnnya yang tiada terbatas besarnya terhadap anak-anaknya. Ibu tersebut bersedia menanggung segala macam duka-derita, kalau saja semua pengorbanan dan kesenduannya itu bisa menumbuhkan kebahagiaan, keselamatan dan kelangsungan hidup anaknya.          
Dengan segala upaya ibu tersebut akan berusaha melindungi anaknya dari segala macam mara bahaya yang bersifat lahiriah maupun batiniah, memberi makan yang cukup. Juga memberikan arena bermain yang teduh dan aman guna bereksplorasi bagi anaknya, agar anaknya bisa mengembangkan diri.
Relasi antara ibu dan anak bisa terjalin dengan baik apabila adanya pengertian dan pemahaman ibu terhadap sikap-sikap yang dimiliki anaknya. Komunikasi juga merupakan faktor penting dalam terwujudnya relasi yang sehat tersebut.
Ibu Tiri dan Ibu Angkat
a.       Ibu Tiri
Salah satu sebab, anak-anak itu menjadi piatu; yaitu karena ditinggal pergi oleh ibunya; atau ibunya meninggal dunia. Kemudian, kedudukan ibu yang melahirkan anak tersebut ditempati oleh wanita lain seiring pernikahan ayahnya. Secara otomatis wanita pengganti, memiliki otoritas penuh dalam menjalankan semua hak dan kewajibannya sebagaimana ibu kandung si anak selama hidup bersama. Wanita pengganti tadi menjadi istri baru ayahnya atau hidup berdiam-bersama dengan ayah dari anak tersebut.
b.      Ibu Angkat
Ibu angkat adalah seorang wanita yang mengadopsi anak (mengambil anak) baik satu atau lebih dikenal atau tidak orang tua anak tersebut karena didasari oleh keinginan memiliki anak. Secara umum keinginan seorang wanita untuk menjadi ibu (ibu angkat) tidak dapat  terkabul karena ia mandul dan tidak bisa melahirkan seorang bayi. Atau sebab-sebab lain sampai wanita ini tidak bisa melahirkan seorang anak ?  Ada beberapa alasan yang dapat kita pertimbangkan antara lain:
a.       Ketakutan sendiri untuk menjalani fungsi-fungsi biologisnya.
b.      Mau mengeksploitir kepuasan-kepuasan seksual saja, tanpa bersedia menanggung resiko punya anak.
c.       Tipe wanita anrogynus yang mengingkari tugas-tugas reproduktif dan ingin memiliki seorang bayi menurut konsepsi dan fantasi sendiri.
d.      Kecenderungan-kecenderungan homoseksualitas atau lesbian.
e.       Ketegangan-ketegangan batin yang neurotis sifatnya; dan lain-lain.
f.       Semua alasan tersebut di atas dapat memberikan dorongan kepada ibu-ibu steril untuk melakukan adopsi terhadap seorang bayi atau seorang anak.
Kesimpulan
Wanita adalah seorang perempuan dewasa yang juga sifat keibuan. Bagi orang yang memiliki anak sifat-sifat keibuaan itu akan semakin jelas dalam perannya sebagai ibu dari anak-anak dan pendidik. Fungsi sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anaknya bisa dipenuhi dengan baik, bila ibu tersebut mampu menciptakan iklim psikis yang gembira-bahagia dan bebas; sehingga suasana rumah tangga menjadi semarak, dan bisa memberikan rasa aman, bebas, hangat, menyenangkan, serta penuh kasih-sayang.
Pada dasarnya tugas seorang ibu mencakup memelihara anak, mendidik serta mengasuh anak yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang ibu. Dalam mesyarakat juga dikenal adanya ibu tiri, di mana sudah menjadi imej bahwa seorang ibu tiri itu merupakan sosok yang kejam, jahat dan bersikap tidak adil sehingga kebanyakan anak-anak tidak menginginkan adanya ibu tiri. Selain dari ibu tiri ada juga yang disebut dengan ibu angkat, yaitu seorang wanita yang tidak bisa melahirkan seorang anak sehingga dia berkeinginan untuk mengangkat seorang anak dengan mengadopsi. Hal ini dilakukan untuk menghadirkan seorang anak yang dapat memberikan keceriaan dalam keluarga. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar