Blogger Widgets MIDWIFE'S DOCUMENT: PERMASALAHAN KESEHATAN WANITA DALAM DIMENSI SOSIAL DAN UPAYA MENGATASINYA

Selasa, 29 Mei 2012

PERMASALAHAN KESEHATAN WANITA DALAM DIMENSI SOSIAL DAN UPAYA MENGATASINYA


MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI
PERMASALAHAN KESEHATAN WANITA DALAM DIMENSI SOSIAL DAN UPAYA MENGATASINYA
Pekerja Seks Komersial, Drug Abuse, Pendidikan, Upah


Oleh :

Nabilah Yasmin Fitriani (M11.02.0021)


PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MADANI
YOGYAKARTA
2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Rabb Penguasa alam, Rabb yang tiada henti-hentinya memberikan kenikmatan dan karunia kepada semua makhluk-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah seminar ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti risalahnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, dengan izin Allah kami telah menyelesaikan tugas makalah kesehatan reproduksi tentang “Permasalahan Kesehatan Wanita dalam Dimensi Sosial dan Upaya Penanganannya (Pekerja Seks Komersial, Drug Abuse, Pendidikan, Upah)”. Penyusunan makalah ini dapat terwujud tak lepas dari bimbingan, pengarahan, dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Penyusun menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan, karena keterbatasan kemampuan maupun pengalaman kami. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi memperbaiki kekurangan ataupun kekeliruan yang ada. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa kebidanan untuk menambah wawasan dalam bidang kesehatan.

Yogyakarta, 29 Mei 2012


           Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pekerja seks komersial adalah suatu pekerjaan dimana seorang perempuan menggunakan atau mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang. Saat ini tingkat kemoralan bangsa Indonesia semakin terpuruk, hal ini terbukti dengan tingginya jumlah pekerja seks komersial. Akibatnya semakin banyak ditemukan penyakit menular seksual. Profesi sebagai pekerja seks komersial dengan penyakit menular seksual merupakan satu lingkaran setan. Biasanya penyakit menular seksual ini sebagian besar diidap oleh PSK, dimana dalam “menjajakkan” dirinya terhadap pasangan kencan yang berganti ganti tanpa menggunakan pengaman seperti kondom.
Permasalahan yang berkenaan dengan pekerja seks di Indonesia adalah tingkat perekonomian yang semakin mencekik kehidupan masyarakat Indonesia.hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat miskin, yang memaksa mereka untuk menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan ata drug abuse terlarang di kalangan gengerasi muda dewasa ini kian meningkat. Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Hal ini menyebabkan para pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.
Pendidikan merupakan proses pemberdayaan peserta didik sebagai subjek dan objek dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Pendidikan merupakan proses sadar dan sistematis disekolah, keluarga, dan masyarakat. Untuk menyampaikan suatu maksud dari suatu konsep yang sudah ditetapkan.
Oleh karena itu kami menyusun makalah ini, agar kita sebagai mahasiswa kebidanan mengetahui permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi sosial dan upaya penanganannya yang mencangkup pekerja seks komersial, drug abuse, pendidikan dan upah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi sosial yang mencangkup pekerja seks komersial, drug abuse, pendidikan dan upah?
2.      Bagaimana penanganan dari permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi sosial tersebut?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui macam permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi sosial yang mencangkup pekerja seks komersial, drug abuse, pendidikan dan upah.
2.      Mengetahui penanganan permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi sosial yang mencangkup pekerja seks komersial, drug abusee, pendidikan dan upah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pekerja Seks Komersial (PSK)
1.    Definisi Pekerja Seks Komersial
-          Pekerja seks komersial adalah suatu pekerjaan dimana seorang perempuan menggunakan atau mengeksploitasi tubuhnya untuk mendapatkan uang.
-          Pekerja Seks Komersial (PSK) atau wanita tuna susila atau disebut juga pelacur adalah perempuan yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul.
-          Pelacuran atau prostitusi adalah peristiwa penjualan diri dengan jalan menjual belikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu seks dengan imbalan atau bayaran.
-          Pekerja seks komersial atau PSK adalh seetiap orang yang memperjualkan seks dengan uang atau dengan bermacam-macam jenis keuntungan kepada siapapun tanpa keterlibataun emosi sama sekali.
-          Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seks dengan pola-pola organisasi impuls atau dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang (promiskuitas), disertai eksploitasi dan komersialisasi seks yang impersonal tanpa afeksi.
-          Pelacuran adalah perbuataun perempuan atau laki-laki yang menyerahkan tubuhnya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapatkan upah.
2.      Faktor adanya Pekerja Seks Komersial (PSK)
Beberapa faktor penyebab timbulnya pelacuran antara lain:
a)      Tidak adanya undang-udang yang melarang pelacuran, juga tidak adanya larangan-larangan terhadap orang-orang yang melakukan pelacuran.
b)      Adanya dorongan keinginan dan dorongan manusia untuk menyalurkan kebutuhan seks, khususnya diluar ikatan perkawinan.
c)      Memberontak terhadap otoritas orang tua.
d)     Adanya kebutuhan seks yang normal akan tetapi tidak dapat dipuaskan oleh pihak suami, misalnya karena suami impoten.
e)      Ajakan teman-teman sekampung atau sekota yang sudah terjun lebih dahulu dalam dunia pelacuran.
f)       Dekadensi moral, merosotnya norma-nnorma susila dan keagamaan pada saat orang mengenyam kesejahteraan hidup dan memutarbalikan nilai-nilai pernikahan sejati.
g)      Bertemunya macam-macam kebudayaan asing dan kebudayaan setempat.
h)      Perkembangan kota-kota, daerah-daerah, pelabuhan dan  industri yang sangat cepat dan menyerap banyak tenaga buruh serta pegawai.
i)        Kesulitan hidup atau tekanan ekonomi.
j)        Nafsu seks yang abnormal.
k)      Akibat dari pergaulan bebas dan gaya hidup yang permisif.
l)        Adanya keinginan atau dorongan untuk menyalurkan kebutuhan seks.
m)    Bujuk rayu laki-laki dan atau calo
n)      Stimulasi seksual melalui film, gambar, dan bacaan.
o)      Disorganisasi dan disintegrasi kehidupan keluarga
p)      Ambisi besar mendapatkan status sosial ekonomi tinggi
q)      Korban trafficking belatar belakang pelayan atau pembantu rumah tangga.
r)       Pecandu narkoba.
s)       Traumatis cinta, sakit hati ditinggal pacar dalam kondisi tidak perawan.
t)       Kemiskinan
u)      Kekerasan seksual
v)      Penipuan
3.    Dampak dan masalah yang ditimbulkan dari Pekerja Seks Komersial (PSK)
·         Keluarga dan masyarakat tidak dapat lagi memandang nilainya sebagai seorang perempuan.
·         Stabilitas sosial pada dirinya akan terhambat karena masyarakat hanya akan selalu mencemooh dirinya.
·         Memberikan citra buruk bagi keluarga.
·         Mempermudah penyebaran penyakit menular seksual, seperti Gonorhea, clamidia, herpes kelamin, sifilis, hepatitis B, HIV/ AIDS.
·         Pada keluarga:
Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga, dimana suami-suami yang tergoda oleh pelacur biasanya melupakan fungsinya sebagai kepala keluarga sehingga keluarga menjadi berantakan.
·         Pada wanita:
Ancaman kesehatan tinggi:
a.       Resiko tinggi tertular dan menularkan penyakit menular seksual (PMS).
b.      Resiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.
c.       Gangguan pada kesehatan reproduksi
·         Pada remaja:
Pada remaja akan memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan, khususnya pada anak-anak muda, remaja pada masa puber dan adolensi
·         Timbul kekerasan
·         Mengganggu ketenangan lingkungan tempat tinggal      
4.    Faktor yang menyebabkan Pekerja Seks Komersial (PSK) direndahkan
a.    Pekerjaan ini identik dengan perzinahan yang merupakan suatu kegiatan seks yang dianggap tidak bermoral oleh banyak agama
b.    Perilaku seksual oleh masyarakat dianggap sebagai kegiatan yang berkaitan dengan tugas reproduksi yang tidak seharusnya digunakan secara bebas demi memperoleh uang.
c.    Pelacuran dianggap sebagai ancaman terhadap kehidupan keluarga yang dibentuk melelui pernikahan dan melecehkan nilai sakral pernikahan
d.   Kaum perempuan membenci pelacuran karena dianggap sebagai pencuri cinta dari laki-laki (suami) meraka sekaligus pencuri hartanya.
5.    Penanganan masalah Pekerja Seks Komersial (PSK)
a.       Keluarga
o   Meningkatkan pendidikan anak anak terutama mengenalkan pendidikan seks secara dini agar terhindar dari perilaku seks bebas.
o   Meningkatkan bimbingan agama sebagai tameng agar terhindar dari perbuataun dosa.
o   Aktif dalam kegiatan keagamaan seperti persekutuan kaum ibu, kelompok pengajian dan lain-lain.
o   Bina hubungan yang harmonis diantara anggota keluarga baik antara suami dan istri, istri dan anak, suami dan anak serta suami istri dan anak-anak.
o   Memainkan peran dalam keluarga secara benar sesuai fungsinya.
b.      Masyarakat
o   Meningkatkan kepedulian dan melakukan pendekatan terhadap kehidupan PSK.
c.       Pemerintah
o   Memperbanyak tempat atau panti rehabilitas.
o   Meregulasi undang undang khusus tentang PSK.
o   Meningkatkan keamanan dengan lebih menggiatkan razia lokalisasi PSK untuk dijaring dan mendapatkan rehabilitas.
d.      Pada wanita tuna susila
o   Intensifikasi pemberian pendidikan keagamaan dan kerohanian untuk memperkuat keimanan terhadap nilai-nilai religius dan norma kesusilaan.
o   Memperluas lapangan pekerjaan bagi kaum wanita disesuaikan dengan kodrat dan haknya dan menyediakan lapangan kerja baru bagi mereka yang bersedia meninggalkan profesi pelacuran dan memulai hidup susila.
o   Penyempurnaan perundang-undangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran.
o   Pemberian suntikan dan pengobatan oleh tenaga kesehatan dengan interval waktu tetap untuk menjamin kesehatan terhadap prostitusi dan lingkungannya.
6.    Penanggulangan prostitusi
a.       Preventif
·   Penyempurnaan undang-undang larangan atau pengaturan penyelanggaraan pelacuran
·   Intensifikasi pendidikan keagamaan
·   Kesibukan untuk penyaluran energi yang positif
·   Memperluas lapangan kerja
·   Pendidikan seks
·   Koordinasi berbagai instansi untuk pencegahan atau penyebaran pelacuran
·   Penyitaan buku, film, dan gambar porno
·   Meningkatkan kesejahteraan rakyat
b.      Represif dan kuratif (menekan, menghapuskan, dan menyembuhkan perempuan dari ketunasusilaannya)
·      Melakukan pengawasan dan kontrol yang sangat ketat terhadap lokalisasi yang sering ditafsirkan sebagai legalisasi
·      Aktivitas rehabilitasi dan resosialisasi
·      Penyempurnaan tempat penampungan dan pembinaan
·      Pemberian pengobataun
·      Membuka lapangan kerja baru
·      Pendekataun keluarga
·      Mencarikan pasangan hidup
·      Pemeratauan penduduk dan perluasan lapangan kerja
7.      Aspek kesehatan reproduksi
Tidak dapat disangkal bahwa masalah PSK sangat erat kaitanya dengan kesehatan reproduksi dan masalah ketimpangan status sosial kaum perempuan. Perilaku seksual yang selau berganti pasangan membuat para PSK mempunyai resiko yang tinggi untuk tertulari  dan menularkan penyakit seksual.
Di sebagian besar lokalisasi, pemeliharaan kesehatan bagi pekerjanya dilakukan oleh para medis atas inisiatif sendiri. Mengingat kualitas para medik Indonesia pada umumnya, sangat sulit diharapkan bahwa mereka akan melakukan penyuluhan dan konseling tentang penyakit menular seksual ke lokasi-lokasi PSK pengabaian terhadap masalah ini hanya karena PSK secara resmi di anggap “tidak ada”, padahal pengabaian ini akan memperbesar resiko mereka dan para pelanggan mereka untuk tertular penyakit seksual.
8.      Peran sebagai petugas kesehatan
a.       Memberikan pelayanan secara sopan seperti melayani pasien-pasien yang lain
b.      Belajar membuat diagnosis dan mengobati PMS
c.       Mengenal berbagai jenis obat yang masih efektif, terbaru, dan murah, serta cobalah menjaga kelangsungan pengadaan obat
d.      Mencari pengadaan kondom yang cukup dan rutin bagi masyarakat
e.       Memastikan keterseediaan pelayanan kesehatan termasuk KB, perawatan PMS, dan obat yang terjangkau serta penanggulangan obat terlarang.

B.     Drug Abuse
1.      Pengertian narkoba
Narkoba (narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif berbahaya lainnya) adalah bahan/zat yang jika dimasukkan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikkan dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, serta perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis.
2.      Jenis-jenis narkoba
·         Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU No. 22 tahun 1997).
Berikut adalah zat-zat yang termasuk jenis narkotika.
a.       Tanaman papaver, opim mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.
b.      Garam-garam dan turunan-turunan dari morfin dan kokain serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.
Narkotika dapat digolongkan menjadi:
a.       Narkotika golongan 1 adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
b.      Narkotika golongan 2 adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan
c.    Narkotika golongan 3 adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan hanya digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
·         Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (UU no. 5 Tahun 1997). Zat-zat yang termasuk psikotropika adalah sedatin (pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandarax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Sabu-sabu, LSD (lycergic Alis Diethylamide), dan sebagainya. Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan digolongkan menjadi :
a.       Psikotropika golongan 1 adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mengakibatkan sindroma ketergantungan.
b.      Psikotropika golongan 2 adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan
c.       Psikotropika golongan 3 adalah psikotropika yang berkhasiat pangobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan
d.      Psikotropika golongan 4 adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan
·         Bahan adiktif, yaitu bahan-bahan alamiah, semisintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfin atau kokain dapat mengganggu sistem saraf pusat, menimbulkan efek ketagihan sehingga akan melakukan berbagai cara agar terus bisa mengonsumsinya..
3.      Efek yang ditimbulkan narkoba
Narkoba dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan efek yang ditimbulkannya.
·         Depresan
Efek obat yaitu dengan menekan sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain sebagai berikut :
a.       Opioda dan berbagai turunannya seperti morfin dan heroin. Contoh yang populer sekarang adalah putau, nitrazepam, dan turunannya.
b.      Sedatif seperti barbiturat dan diazepam
·         Stimulan
Merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Mempercepat kerja organ tubuh seperti jantung dan otak sehingga pemakai merasa lebih bertenaga untuk sementara waktu. Jenis stimulan antara lain kafein, kokain, amfetamin, dan metemfetamin.
·         Halusinogen
Efek utamanya adalah mengubah daya persepsi  atau mengakibatkan halusinasi (melihat sesuatu/mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak  ada). Para pemakai menjadi psikopat (mudah curiga). Halusinogen kebanyakan berasl dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada juga yang diramu di laboratorium seperti LSD dan yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.
4.      Reaksi tubuh akibat penyalahgunaan narkoba
Berikut adalah bermacam-macam reaksi tubuh yang timbul akibat penyalahgunaan narkoba.
a.       Kecanduan (adiksi) :  suatu kondisi seseorang yang merasa tidak mampu melakukan aktivitas/kegiatan tanpa menggunakan napza.
b.      Ketergantungan (dependesi) :  suatu bentuk ekstrem dari kecandaun ketika seseorang merasa membutuhkan napza tiap saat bahkan sampai melupakan kegiatan sehari-hari
c.       Toleransi : peningkatan jumlah dosis secara bertahap dan tanpa disadari oleh penyalahguna.
d.      Overdosis : dosis yang digunakan melebihi dosis yang maksimal sehingga dapat mengakibatkan kematian.
e.       Withdrawal syndrome (sakau): gejala yang muncul apabila penggunaan napza dihentikan tiba-tiba. Gejala sakau ringan-sedang berupa: nyeri otot dan tulang, mual muntah, matau merah, keringat dingin, suhu meningkat, wajah memerah, nadi cepat, dan tekanan darah meningkat, seangkan gejala berat berupa: semua gejala ringan-sedang ditambah dengan keluar cairan dari semua lubang tubuh.
5.      Jenis-jenis narkoba yang beredar
a.       Heroin (putau, pt, atau etep)
Gejala yang timbul setelah pemakaian: pusing, mual, rasa yang gembira yang berlebihan (eouforia), kesadaran menurun, ngomong kacau, rasa sakit berkurang, nafas lambat, dan lain-lain. Cara pakai dengan disuntik dan dihisap.
b.      Ekstasi (xtc dan i)
Gejala setelah pemakaian: rasa gembira berlebih, percaya diri meningkat, aktifitas fisik menjadi tahan lama, nafsu makan hilang, nafas cepat, detak jantung cepat, gairah seksual meningkat, dan sebagainya. Cara pakai adalah dengan cara ditelan.
c.       Sabu-sabu (SS atau ubas)
Gejala setelah pemakaian sama seperti xtc, tanpa nafsu makan hilang. Cara pakainya dengan disuntik dan dihisap.
d.      Ganja (cimeng, hashis, mariyuana, atau canabis)
Gejala setelah pemakaian gembira berlebihan percaya diri meningkat, mengalami halusinasi, seakan-akan melihat sesuatu yang penuh dengan warna, konsentrasi dan daya tangkap otak turun dll. Cara pakai dengan cara dihisap atau dimakan.
e.       Kokain (kristal dan crack)
Gejala setelah pemakaian kewaspadaan meningkat, gembira, berkurang rasa lapar, tenaga bertambah, sukar tidur, pupil matau membesar, denyut nadi dan tekanan darah meningkat. Cara pakainya dengan cara dihisap, ditelan bersama minuman atau disuntikan.
6.      Tanda-tanda pemakai Narkoba
Ketika seseorang diduga melakukan penyalahgunaan narkoba, maka kemungkinan tersebut dapat terlihat pada tanda-tanda sebagai berikut:
·         Fisik
a.       Berat badan cenderung mengalami penurunan drastis.
b.      Mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, serta bibir kehitam-hitaman.
c.       Tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayataun.
d.      Goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan.
e.       Buang air besar dan kecil kurang lancar.
f.       Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.
g.      Mengalami jantung berdebar-debar.
h.      Sering menguap.
i.        Mengeluarkan air mata berlebihan.
j.        Mengeluarkan keringat berlebihan.
k.      Mengalami nyeri kepala.
l.        Mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi.
·         Emosi
a.       Sangat sensitif dan cepat bosan.
b.      Bila ditegur atau dimarahi, malah menunjukan sikap membangkang.
c.       Emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya.
d.      Nafsu makan tidak menentu.
·         Perilaku
a.       Malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya.
b.      Menunjukan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga.
c.       Sering bertemu dengan orang yang tidak di kenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam.
d.      Suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah.
e.       Selalu kehabisan uang.
f.       Waktunya di rumah kerap kali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya.
g.      Takut akan air. Jika terkena akan terasa sakit, karena itu mereka jadi malas mandi.
h.      Sering batuk-batuk dan pilek yang berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala “putus zat”.
i.        Sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis jika ada maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk membeli obat.
j.        Sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan.
k.      Sering mengalami mimpi buruk.
7.      Dampak Penyalahgunaan narkoba
Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.
·         Dampak Fisik
a.       Gangguan pada sistem saraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, dan kerusakan saraf tepi.
b.      Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan pendarahan darah.
c.       Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penahan (abses), alergi, dan eksem.
d.      Gangguan pada paru-paru (pulmonar) seperti: penekanan fungsi pola pernafasan, kesukaran bernafas, dan pengerasan jaringan paru-paru.
e.       Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati, dan sulit tidur.
f.       Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan pada endokrin, seperti penurunan fungsi hormon, reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
g.      Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenore (tidak haid).
h.      Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, resikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
i.        Penyalahguna narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi overdosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Overdosis bisa menyebabkan kematian.
·         Dampak Psikis
a.       Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang, dan gelisah.
b.      Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, dan penuh curiga.
c.       Agitasi, menjadi ganas, dan tingkah laku yang brutal.
d.      Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal, dan tertekan.
e.       Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
·         Dampak Sosial
a.       Gangguan mental, antisosial, dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan.
b.      Merepotkan dan menjadi beban keluarga.
c.       Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram.
Dampak negative dari penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja antara lain:
a.       Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian.
b.      Sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan nilai pelajaran.
c.       Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah
d.      Sering menguap, mengantuk dan malas
e.       Tidak memperdulikan kesehatan diri
f.       Suka mencuri untuk membeli narkoba
8.      Cara Mengatasi Tindak Penyalahgunaan Narkoba
Ada tiga tingkat intervensi/perencanaan yang dapat dilakukan dalam mencegah maupun membantu remaja yang telah terjerumus ke dalam narkoba, yaitu tindakan primer, sekunder, dan tertier.
·         Primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, maka yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
a.       Melakukan kerja sama dengan pihak yang berwenang (intansi pemerintah, seperti halnya BKKBN) untuk memberikan pendidikan dan penyuluhan, pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi.
b.      Bagi orang tua hendaknya lebih memberikan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena salah satu penyebab banyaknya remaja terjerumus dalam pemakaian obat terlarang adalah kurangnya kasih sayang dari keluarga.
c.       Bagi pihak sekolah untuk senantiasa melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya yang mencurigakan, karena biasanya penyebaran (transaksi narkoba sering trjadi disekitar lingkungan sekolah).
d.      Meningkatkan dan menekankan pendidikan moral serta pemahaman keagamaan pada remaja, baik disekolah, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal. Hal tersebut ditujukan agar remaja tidak mudah terjerumus dalam perbuataun tercela.
e.       Bagi remaja sendiri hendaknya mampu mengatur waktu luang dengan kegiatan-kegiatan yang berifat positif, melakukan aktifitas fisik dalam penyaluran energi remaja yang tinggi seperti olahraga, mengemban diri dengan berbagai hobi, baik di sekolah, dirumah dan lingkungan sekitar.
·         Sekunder, yaitu ketika remaja telah menggunakan narkoba, maka diperlukan upaya penyembuhan. Upaya ini meliputi fase berikut
a.       Fase penerimaan awal antara 1-3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental.
b.      Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik antara 1-3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan adiktif secara bertahap.
·         Tertier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini terdiri atas:
a.       Fase stabilisasi, antara 3-12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat.
b.      Fase sosialisasi dalam masyarakat, agar mantan penyalahguna narkoba mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat.

C.    PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan proses pemberdayaan peserta didik sebagai subjek dan objek dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Pendidikan merupakan proses sadar dan sistematis di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Untuk menyampaikan suatu maksud dari suatu konsep yang sudah ditetapkan.
Tujuan pendidikan yaitu diharapkan individu mempunyai kemampuan dan keterampilan secara mandiri untuk meningkatkan tarap hidup lahir batin dan meningkatkan perannya sebagai pribadi, pegawai / karyawan, warga masyarakat, warga Negara, dan makhluk tuhan dalam mengisi pembangunan.
Tingkat kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa pada hakikatnya ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diperoleh. Pendidikan yang baik dan berkualitas akan melahirkan individu yang baik dan berkualitas pula. Sebaliknya apabila pendidikan yang diperoleh tidak baik dan tidak berkualitas, maka hal ini akan berdampak terhadap kualitas  SDM yang dibangun.
Era baru dalam reformasi dewasa ini memerlukan SDM yang berkualitas dan profesional serta tangguh dan ulet. Namun pada kenyataanya semua itu masih jauh dari harapan.
Peningkatan pendidikan bagi perempuan keharusan yang tidak dapat dielakkan demi mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Analisis gender dalam pembangunan pendidikan di tingkat nasional menemukan adanya kesenjangan gender dalam pelaksanaan pendidikan terutama di tingkat SMK dan perguruan tinggi, namun lebih seimbang pada tingkat SD, SMP,dan SMU. Kecenderungannya adalah semakin tinggi jenjang pendidikan, maka makin meningkat kesenjangan gendernya.
Kasus kekerasan,perdaganagn,tekanan budaya dan adat istiadat, rendahnya pendidikan, serta dominasi kaum pria dalam rumah tangga masih terjadi.
Kasus kekerasan dalam kelurga, perdagangan, tekanan budaya dan adat istiadat, pendidikan rendah, dan dominasi pria dalam rumah tangga masih menimpa sebagian besar perempuan.
Faktor sosial budaya juga menjadi salah satu penyebab buruknya kondisi kesehatan dan gizi kaum perempuan. Di NTB, misalnya, masyarakat bisa membiayai naik haji dan membali tanah tetapi tidak mampu memberi makan yang bergizi kepada ibu yang sedang hamil. Kondisi kesehatan ibu dan anak bayi sangat buruk, tetapi tidak si perhatikan karena dinilai bukan kebutuhan mendesak.
Pendidikan yang tinggi dipandang perlu bagi kaum wanita, karena tingkat pendidikan yang tinggi maka dapat meningkatkan taraf hidup, membuat keputusan yang menyangkut masalah kesehatan mereka sendiri. Seorang wanita yang lulus dari perguruan tinggi akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan mampu berperilaku hidup sehat bila dibandingkan dengan seorang wanita yang memiliki pendidikan rendah. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita maka ia semakin mampu mandiri dengan sesuatu yang menyangkut diri mereka sendiri.

D.    UPAH
Fenomena perempuan bekerja bukanlah barang baru di tengah mesyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang istri sesungguhnya sudah bekerja sementara suami pergi berburu, ia di rumah bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikomsumsi keluarga.
Bagi perempuan yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. Diskriminasi upah sering kali lebih tersamar, meskipun pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki, di sektor swasta diskriminasi masih terjadi meskipun besar upah pokok antara pegawai pegawai laki-laki dan perempuan sama namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. Seorang pegawai perempuan apakah bersetatus menikah atau lajang tetap diangagap lajang. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah, karena dia menikah tidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. Demikian juga tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri, dengan demikian perhitungan komponen tunjangan total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama.
Selain persoalan upah, dalam prespektif perbandingan dengan laki-laki, perempuan di sektor publik mengalami kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertical (kenaikan pangkat, posisi, jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainya baik di sektor pemerintahan maupun di sektor swasta.
Dari gambaran persoalan di atas dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai perbedaan upah serta ketidaksamaman akses keuntungan dan fasilitas kerja, termasuk akses terhadap program-program pelatihan pengembangan karir.
Permasalahan Hak  Bekerja bagi Perempuan
UU No. 7 tahun 1984, pengesahan dari retifikasi konvensi Perserikataun Bangsa-Bangsa, tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (convention on the elimination off all forms of discrimination against women), Pasal 11 :
a)         Bagi negara-negara peserta wajib membuat peraturan untuk menghapus diskriminasi terhadap wanita dilapangan pekerjaan guna menjamin hak-hak yang sama atas dasar persamaan antara pria dan wanita.
1)      Hak untuk bekerja sebagai hak asasi manusia
2)      Hak atas kesempatan kerja yang sama, termasuk penerapan kriteria seleksi yang sama dalam penerimaan pegawai.
3)      Hak untuk memilih dengan bebas profesi dan pekerjaan, hak untuk promosi, jaminan pekerjaan dan semua tunjangan dan fasilitas kerja.
4)      Hak untuk menerima upah yang sama, termasuk tunjangan-tunjangan, baik untuk perlakuan yang sama, maupun persamaan perlakuan dalam penilaian kualitas pekerjaan.
5)      Hak atas jaminan sosial, khususnya dalam hal pensiun, pengangguran, sakit cacat, lanjut usia, serta lain-lain ketidak mampuan umtuk bekerja, hak atas masa cuti yang dibayar.
6)      Hak atas perlindungan kesehatan dan keselamataun kerja, termasuk  usaha perlindungan terhadap fungsi melanjutkan keturunan.
b)      Untuk mencegah dikriminasi terhadap wanita atas dasar perkawinan atau kehamilan dan untuk menjamin hak efektif mereka untuk bekerja, negara-negara peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat.
1)      Untuk melarang, dengan dikenakan sanksi pemecatan atas dasar kehamilan atau cuti hamil dan dikriminasi dalam memperhentian atas dasar status perkawinan.
2)      Untuk mengadakan peraturan cuti hamil dengan bayaran atau dengan tunjangan sosial yang sebanding tanpa kehilangan pekerjaan semula.
3)      Untuk menganjurkan pengadaan pelayanan yang perlu gunna memungkinkan para orang tua menggabungkan kewajiban-kewajiban dengan tanggung jawab pekerjaan dan partisifasi dalam kehidupan masyarakat, khususnya meningkatkan pembentukan dan pengembangan suatu jaringan tempat-tempat penitipan anak.
4)      Untuk memberi perlindungan khususnya pada kaum wanita selama kehamilan pada jenis pekrjaan yang terbukti berbahaya bagi mereka
c)         Perundang-undangan yang bersifat melindungi sehubungan dengan hal-hal yang tercangkup dalam pasal ini wajib di tinjau kembali secara berkala bedasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta direvisi, dicabut atau diperluas menurut keperluan.
Tahun 1957, pemerintah meratifikasi kovensi ILO no 100, disahkan melalui UU No 80 tahun 1957, tentang pengupahan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya. Artinya juga tidak dibenarkan adanya diskriminasi upah bagi buruh perempuan. Perturan perundangan yang mengatur pelaksanaan pengupahan yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No 8 tahun 1981. Perlindungan upah dan UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, keduanya secara explicit tidak mengatur anti diskriminasi upah bagi buruh perempuan.
UU No 39 tahun1999, tentang hak asasi manusia (HAM)
Pasal 45: “Hak wanita dalam undang-undang ini adalah hak asasi manusia (HAM): Pasal 49 :
a.       Wanita berhak untuk memilih, dipilih, di angkat dalam pekerjaan, jabataun dan profesi sesuai dengan persyarataun dan peraturan perundang-undangan”.
b.      Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan dan profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamataun dan kesehatannya berkenaan dengan reproduksi wanita.
c.       Hak khusus yang melekat pada diri wanita di karenakan fungsi reproduksinya, dijamin, dan dilindungi oleh hukum.
Fakta dilapangan
a.       Buruh atau pekerja perempuan selalu di anggap berstatus lajang, meski telah berkeluarga, mempunyai anak dan suaminya tidak memperoleh jaminan sosial apapun, karena berstatus lajang maka buruh atau pekerja perempuan tidak mendapat tunjangan keluarga maupun jaminan sosial bagi suami dan anak-anaknya. Padahal semua UU yang mengatur menyataukan non diskriminasi, ternyatau masih sangat sulit di implementasikan dalam kehidupan nyatau.
b.      Potongan pajak penghasilan bagi buruh atau pekerja perempuan lebih besar dari pada laki-laki lantaran buruh perempuan berstatus lajang bukan kepala rumah tangga, walaupun pada kenyataan suaminya sedang tidak bekerja
c.       Jaminan sosial, UU No 3 tahun1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja pasal 16 jelas mengatur “tenaga kerja, suami atau istri, dan anak berhak memperoleh jaminan pemeliharaan kesehatan“. Toh pada kenyataannya tidak mudah diakses, hingga saat ini masih memerlukan perjuangan, kami sedang memperjuangkan belum berhasil, masih dalam proses. Keluarga buruh atau pekerja perempuan selalu miskin karena peraturan perundangan tidak jalan.
d.      Pengupahan, kalau sampai batas upah minimum regional atau propinsi atau kabupaten atau kota masih sama untuk pekerjaan yang sama nilainya antara laki-laki dan perempuan.
e.       Promosi jabatan, perempuan sangat sulit memperoleh promosi jabatan. Perempuan pada umumnya masuk kerja di sektor industri padat karya seperti perusahaan garmen, sepatu, rokok, elektronik.
f.       Training, selain pada saat masuk kerja tidak ada lagi training bagi buruh atau pekerja perempuan, inipun utamanya di perusahaan tekstil permintalan dan elektronik ,garmen tidak ada training.
g.      Usia kerja, para buruh perempuan yang sudah berusia 40 tahun diusir terus oleh pihak usaha agar tidak tahan lagi pekerja kemudian mengundurkan diri dan di ganti oleh tenaga kerja perempuan yang baru lulus sekolah baik SMP, SMA dan masih lajang.
h.      Hak normatik, untuk mendapatkan hak normatik pun masih perlu perjuangan.
i.        Peraturan-peraturan perundangan yang telah diterbitkan oleh negara belum ada secara explisit mengatur bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT).


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi sosial yang mencangkup pekerja seks komersial,  drug abuse, pendidikan, dan upah banyak sekali, diantaranya penularan penyakit menular seksual karena meningkatnya aktifitas pekerja seks komersial. Rusaknya masa depan wanita karena penyalahgunaan obat terlarang dan juga penularan penyakit menular seksual karena penggunaan jarum suntik yang bergantian. Rendahnya derajat kesehatan wanita dan tingginya angka kematian ibu dan anak karena kurangnya pendidikan wanita. Diskriminasi wanita terhadap upah pada pekerjaan karena wanita dianggap sebagai “skala bawah”.
Upaya-upaya yang bisa dilakukan sebagai tenaga kesehatan adalah memberikan konseling pada pekerja seks komersial betapa bahayanya pekerjaan yang mereka lakukan. Mengadakan penyuluhan tentang bahayanya penyalahgunaan obat terlarang. Memberikan konseling dan penyuluhan kepada para wanita tentang kesehatan reproduksi agar pengetahuan wanita bertambah sehingga derajat kesehatan wanita dan atau masyarakat meningkat.
B.     Saran
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memecahkan permasalahan kesehatan wanita dalam dimensi sosial.


DAFTAR PUSTAKA

Romauli, Suryati dan Anna Vida Vindari, S.ST. 2009. Kesehatan Reproduksi buat Mahasiswi Kebidanan. Bantul: Nuha Medika.

Kumalasari, Intan dan Iwan Andhyantoro. 2012.  Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan.. Jakarta: Salemba Medika.

Widyastuti, Yani dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta. Penerbit Fitramaya.

Manuaba, dr. Ida Ayu Chandranita, Sp. OG dkk. 2009. Memeahami kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar